Perbedaan Saraf Terjepit dan Nyeri Otot Pinggang yang Sering Disalahartikan
Saraf terjepit dan nyeri otot pinggang sering terasa mirip. Kenali perbedaannya agar tidak salah penanganan dan kondisi tidak makin parah.
12/24/20252 min read


Pendahuluan
Nyeri pinggang merupakan salah satu keluhan paling umum yang dialami banyak orang, mulai dari usia muda hingga lanjut. Sayangnya, tidak sedikit orang yang langsung menyimpulkan bahwa semua nyeri pinggang hanyalah akibat otot tegang atau kelelahan. Padahal, dalam banyak kasus, keluhan tersebut bisa berasal dari saraf terjepit.
Kesalahan mengenali penyebab nyeri pinggang dapat berujung pada penanganan yang tidak tepat. Akibatnya, keluhan tidak kunjung membaik, bahkan bisa semakin parah. Memahami perbedaan antara saraf terjepit dan nyeri otot pinggang menjadi langkah awal yang sangat penting.
👉 Baca juga: Saraf Terjepit di Pinggang: Gejala Awal yang Sering Diabaikan
Apa Itu Nyeri Otot Pinggang?
Nyeri otot pinggang umumnya terjadi akibat otot yang tegang, kaku, atau mengalami mikrocedera. Kondisi ini sering dipicu oleh aktivitas fisik berlebihan, posisi tubuh yang salah, mengangkat beban berat, atau duduk terlalu lama tanpa jeda.
Nyeri otot biasanya terasa tumpul, pegal, atau kaku di area pinggang. Rasa nyeri cenderung terlokalisasi dan tidak menjalar jauh. Pada banyak kasus, nyeri otot akan membaik dengan istirahat, peregangan ringan, atau kompres hangat.
Apa yang Dimaksud dengan Saraf Terjepit?
Saraf terjepit terjadi ketika saraf di tulang belakang mengalami tekanan, baik akibat bantalan tulang yang menonjol, pergeseran tulang, otot yang menegang, maupun peradangan di sekitarnya. Tekanan ini mengganggu fungsi saraf dalam menghantarkan sinyal.
Berbeda dengan nyeri otot, nyeri akibat saraf terjepit sering disertai sensasi lain seperti kesemutan, rasa terbakar, kebas, atau nyeri yang menjalar ke bokong, paha, hingga kaki. Gejalanya juga cenderung lebih menetap dan dapat memburuk pada posisi tertentu.
👉 Baca juga: Kesemutan di Kaki: Kapan Harus Curiga Saraf Terjepit?
Perbedaan Pola Nyeri yang Dirasakan
Salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada pola nyerinya. Nyeri otot biasanya terasa saat otot digunakan atau ditekan, dan akan berkurang saat tubuh beristirahat. Rasa sakitnya relatif stabil dan tidak menjalar.
Sebaliknya, nyeri akibat saraf terjepit sering terasa seperti tersetrum, menusuk, atau menjalar mengikuti jalur saraf. Rasa nyeri bisa muncul meski tubuh sedang diam, dan sering memburuk saat duduk lama, membungkuk, atau batuk.
Pengaruh Terhadap Aktivitas Sehari-hari
Nyeri otot pinggang umumnya masih memungkinkan seseorang beraktivitas, meski terasa tidak nyaman. Dengan penyesuaian ringan, aktivitas biasanya tetap bisa dilakukan.
Pada saraf terjepit, aktivitas tertentu justru bisa sangat terganggu. Berdiri lama, berjalan jauh, atau bahkan sekadar duduk bisa memicu nyeri hebat. Dalam kasus tertentu, saraf terjepit juga dapat menyebabkan kelemahan otot sehingga gerakan terasa tidak stabil.
👉 Baca juga: Nyeri Pinggang Saat Duduk Lama: Otot atau Saraf?
Respons terhadap Istirahat dan Perawatan Sederhana
Nyeri otot cenderung merespons dengan baik terhadap istirahat, pijat ringan, peregangan, dan kompres hangat. Dalam beberapa hari hingga minggu, keluhan biasanya membaik secara bertahap.
Saraf terjepit sering kali tidak membaik hanya dengan istirahat biasa. Meski nyeri bisa sedikit berkurang, keluhan sering kambuh kembali. Tanpa penanganan yang tepat, tekanan pada saraf dapat menyebabkan iritasi berkepanjangan.
Risiko Jika Salah Penanganan
Menganggap saraf terjepit sebagai nyeri otot biasa dapat menunda penanganan yang seharusnya. Akibatnya, saraf bisa mengalami gangguan jangka panjang yang memicu nyeri kronis, kesemutan menetap, hingga penurunan kekuatan otot.
Sebaliknya, nyeri otot yang ditangani dengan tepat sejak awal jarang menimbulkan komplikasi serius. Inilah mengapa mengenali perbedaannya sangat penting.
Kesimpulan
Meski sama-sama menimbulkan nyeri pinggang, saraf terjepit dan nyeri otot memiliki karakteristik yang berbeda. Nyeri otot biasanya bersifat lokal, membaik dengan istirahat, dan tidak menjalar. Sementara itu, saraf terjepit sering disertai kesemutan, nyeri menjalar, dan memburuk pada posisi tertentu.
Jika nyeri pinggang disertai gejala menjalar ke kaki, kebas, atau tidak membaik dalam waktu lama, sebaiknya jangan menganggapnya sebagai pegal biasa. Mengenali perbedaan sejak dini dapat membantu mencegah kondisi yang lebih serius dan mempercepat pemulihan.
