Kesemutan Saat Duduk Lama: Normal atau Tanda Masalah Saraf?
Kesemutan saat duduk lama sering dianggap wajar. Namun pada kondisi tertentu, hal ini bisa menjadi tanda gangguan saraf. Kenali perbedaannya agar tidak terlambat ditangani.
12/22/20252 min read


Pendahuluan
Duduk terlalu lama sering kali membuat kaki atau tangan terasa kesemutan. Banyak orang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang normal dan akan hilang sendiri setelah berdiri atau bergerak. Dalam banyak kasus, anggapan ini memang benar. Namun, tidak sedikit pula orang yang mengalami kesemutan berulang setiap kali duduk, bahkan dengan durasi yang tidak terlalu lama.
Kesemutan yang terus terjadi saat duduk bisa menjadi sinyal bahwa ada masalah pada saraf atau aliran darah. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi keluhan yang lebih serius dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
👉 Baca juga: Kaki atau Tangan Sering Kesemutan: Penyebab dan Cara Mengatasinya
Mengapa Duduk Lama Bisa Menyebabkan Kesemutan?
Saat duduk dalam waktu lama, terutama dengan posisi yang kurang tepat, terjadi tekanan pada saraf dan pembuluh darah. Tekanan ini menghambat aliran darah serta transmisi sinyal saraf ke kaki atau tangan, sehingga muncul sensasi kesemutan atau kebas.
Posisi duduk menyilangkan kaki, duduk di tepi kursi terlalu lama, atau duduk dengan pinggang membungkuk dapat memperparah tekanan tersebut. Biasanya, kesemutan jenis ini akan menghilang beberapa menit setelah posisi tubuh diperbaiki atau setelah berjalan sebentar.
Kesemutan Normal yang Tidak Perlu Dikhawatirkan
Kesemutan yang bersifat normal umumnya muncul setelah duduk terlalu lama tanpa bergerak. Sensasinya ringan, tidak disertai nyeri, dan segera menghilang setelah berdiri atau meregangkan tubuh. Kesemutan ini terjadi karena saraf “tertekan sementara” dan akan pulih begitu tekanan berkurang.
Selama kesemutan tidak sering kambuh, tidak menjalar, dan tidak disertai gejala lain, kondisi ini biasanya tidak berbahaya.
👉 Baca juga: Nyeri Pinggang Saat Duduk Lama: Penyebab dan Solusi
Ketika Kesemutan Menjadi Tanda Masalah Saraf
Kesemutan patut dicurigai sebagai tanda gangguan saraf jika muncul hampir setiap kali duduk, berlangsung lama, atau terasa semakin parah. Sensasinya bisa disertai rasa panas, nyeri menjalar, atau mati rasa yang tidak hilang meski sudah berdiri dan bergerak.
Pada beberapa orang, kesemutan saat duduk berkaitan dengan saraf terjepit di pinggang atau leher. Tekanan pada saraf ini membuat gejala muncul ketika posisi duduk meningkatkan beban pada tulang belakang. Kesemutan juga bisa menjalar dari pinggang ke bokong hingga kaki.
Hubungan Postur Duduk dan Saraf Terjepit
Postur duduk yang buruk dalam jangka panjang dapat memicu gangguan pada tulang belakang dan saraf. Duduk membungkuk, tidak ada sandaran pinggang, atau duduk terlalu lama tanpa jeda membuat tekanan pada bantalan tulang belakang meningkat.
Jika kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, saraf bisa mengalami iritasi atau penjepitan. Inilah sebabnya kesemutan saat duduk sering dialami oleh pekerja kantoran, pengemudi, atau siapa pun yang menghabiskan banyak waktu dalam posisi duduk.
👉 Baca juga: Kapan Kesemutan Menjadi Tanda Saraf Terjepit?
Kapan Harus Mulai Waspada?
Kesemutan saat duduk perlu diwaspadai jika terjadi semakin sering, terasa pada satu sisi tubuh, atau disertai kelemahan otot. Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah kesemutan yang tidak membaik meski sudah sering mengubah posisi atau berjalan.
Jika kesemutan mulai mengganggu aktivitas, membuat kaki terasa lemah, atau disertai nyeri pinggang dan punggung, sebaiknya lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.
Kesimpulan
Kesemutan saat duduk lama memang sering kali normal, tetapi tidak selalu boleh diabaikan. Jika kesemutan bersifat ringan dan segera hilang setelah bergerak, kemungkinan besar tidak berbahaya. Namun jika muncul berulang, menetap, atau disertai gejala lain, kondisi ini bisa menjadi tanda masalah saraf.
Mengenali perbedaan kesemutan normal dan yang perlu diwaspadai membantu kamu mengambil langkah pencegahan lebih awal. Dengan memperbaiki postur duduk, rutin bergerak, dan memperhatikan sinyal tubuh, risiko gangguan saraf dapat diminimalkan.
